Cerita panjang lagiii…..
——————————————————————————————–
Song of Heaven
Seorang anak muda tergesa-gesa memasuki ruang kelas. Melihat sekeliling lalu duduk di kursi sebelahku. Tersenyum padaku, lalu bertanya: ”Udah lama ?”
”Lumayan.” jawabku sambil membalas tersenyum.
”Perkenalkan, Anton.”
”Sista.” kami berkenalan.
Demikian pertemuan pertama kursus organ itu aku duduk di sebelah seorang bernama Anton yang datang terlambat. Sepanjang pertemuan, dimana seharusnya kami mendengarkan penjelasan tentang not balok, kami malah saling berbicara.
Meski demikian aku merasa senang juga ada seseorang yang menjadi teman, mengingat awal kursus tersebut kami semua belum saling mengenal.
”Sista tinggal dimana ?”
”Aku ngekost di Pajeksan.”
”Wah kebetulan sekali searah sama kontrakanku. Aku di Jalan Mataram.” Dia meneruskan ”Naik apa Sista ?”
”Tadi berangkat naik bus, tapi udah malam gini, gak ada bus, jalan kaki aja pulangnya.”
”Wah, kita bisa sama-sama dong. Aku juga jalan kok, bareng yuk !”
Hari demi hari kulewati di tempat kursus itu, aku menjadi dekat dengan Anton. Kami pun sering duduk bersebelahan, entah disengaja, entah tidak. Sampai suatu hari dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke depan, membisikkan sesuatu pada bapak yang mengajar, lalu keluar ruangan dan tak pernah kembali lagi.
…
Anton, kenapa ? Kamu dimana ? Sudah dua kali pertemuan kamu tak hadir.
Kenapa kamu tiba-tiba menghilang ?
…
Sudah seminggu lebih ini aku menjalani kursus tanpa Anton, berarti kini sudah tiga kali dia tak hadir. Padahal di tempat kursus itu kehadiran sangat penting sebab tidak hadir sekali saja sudah akan tertinggal banyak. Di samping sangat menentukan penilaian dan tentu saja kelulusan.
Selesai kursus aku terburu-buru ingin menanyakan pada bapak pengajar.
Keluar ruangan, aku menabrak Pak Wid sampai tumpukan kertas-kertas di tangannya berantakan semua. Pak Wid itulah yang terakhir bicara dengan Anton kemarin di ruang kelas. Ah kebetulan sekali, walaupun bapak yang terkenal galak itu terlihat agak kurang berkenan dengan tingkah lakuku, tapi kebetulan sekali aku memang ingin bertemu dengannya, menanyakan Anton dimana.
”Aduh ! Jalan liat-liat dong, Sista ! Sista, kalau bukan kamu murid paling pandai di kelas ini, aku udah marahin kamu habis-habisan !”
”Maaf pak, wah kebetulan sekali, pak saya ingin menanyakan kenapa ya Anton gak pernah berangkat kursus lagi ?” tanyaku sambil membantu mengambil kertas-kertas yang berserakan.
”Lhoh ?! Kok tanya saya ?? Tanya dong si Anton itu, kenapa dia tidak pernah berangkat ?!”
”Tapi waktu itu kan bapak yang terakhir bicara dengan Anton di kelas, memang dia gak bilang mau pamit atau apa gitu ya pak ?”
”Hmm, waktu itu sih dia bilang mau keluar, ya silahkan, saya pikir mau ke kamar mandi, eh ternyata keluar dalam arti gak ikut kursus lagi. Hmm, memang anak itu, udah datangnya sering telat.”
”Ya ampun, gitu ya. Ini nama lengkapnya Anton ya pak ? Markus Antonius.” tanyaku sambil menunjuk daftar peserta kursus, yang berserakan akibat ulahku tadi.
”Alamat kontrakannya ! Jalan Mataram No. 69. Pinjam sebentar pak, saya catat dulu alamatnya.”
Selesai mencatat alamatnya dan membantu membereskan kertas Pak Wid aku pun segera meninggalkan tempat itu untuk mencari Anton di kontrakannya.
…
”Anton, kenapa gak pernah ikut kursus lagi ?”
”Gak kenapa-kenapa.” jawabnya.
”Emang ada apa sih Anton ?”
”Gak ada apa-apa, males aja.”
”Kok males sih, ayo dong ikut kursus lagi…
…dulu katanya pengen bisa main organ ?”
”Cerewet ah, pergi sana ! Mentang-mentang kamu yang paling pintar di kelas, trus seenaknya nyuruh-nyuruh orang ! Kalo males ya males, titik !”
”Anton kok gitu sih…” jawabku sambil menangis, tak menyangka akan ditanggapi seperti itu oleh Anton.
Aku pun pergi dengan menyisakan kesedihan kenapa Anton berubah seperti itu ? Dan lagi, kenapa dia terlihat berantakan, seperti tak peduli pada diri sendiri dan lingkungannya.
Beberapa hari kemudian, di tempat kursus.
”Hai Sist.”
”Anton…!
Aku nggak nyangka kamu akan datang !”
”Kan gara-gara kamu, Sist. Btw aku minta maaf atas kejadian kemarin.”
Di perjalanan pulang kami banyak bicara, kami banyak bercerita. Aku menceritakan tentang kejadian-kejadian selama kursus, materi-materi apa yang telah diajarkan. Dia menceritakan tentang betapa dia memang ingin bisa main organ. Namun dia kurang begitu menanggapi ketika kucoba bertanya, kenapa sempat berniat gak ikut kursus lagi.
”Yang penting, sekarang aku udah bisa liat kamu ikut kursus lagi, eh salah, aku udah ikut kursus lagi.” dia terlihat agak gugup.
Dia meneruskan ”Sist, semoga aku bisa liat kamu kelak jadi organis yang handal. Kamu berbakat, tapi sayang gak punya organ sendiri ya buat latihan.”
”Kan bisa numpang latihan di gereja ?”
”Masak mau numpang di gereja terus ?
Kalo keyboard murahan buat latihan jari kamu udah punya, bagaimana kalo kita menabung, kumpulkan uang biar suatu saat bisa beli organ, biar kamu bisa latihan tuts kaki juga.”
”Kita menabung, Ton ? Berdua ? Iya, ya, dengan begitu suatu saat bisa beli organ !”
”Aku ingin liat kamu latihan, Sist. Aku ingin membantu impianmu bisa terwujud.”
”Lhoh, kamu kan bisa pake juga, Ton, kita berdua kelak bisa jadi pemain organ.”
Dia hanya tersenyum.
…
Jadilah kami mulai menyisihkan banyak dari penghasilan kami yang bekerja sebagai spg toko. Bahkan kalau ada waktu kami mengambil juga pekerjaan-pekerjaan part time di tempat lain, di restoran fast food misalnya. Sebab kami pun harus memikirkan biaya kursus, kos maupun kontrakan.
Tiga tahun berlalu, menjelang kelulusan kursus organ. Kami berjalan-jalan sepanjang toko musik, melihat-lihat organ mana yang kira-kira bisa kami beli, yang harganya tak lebih dari 6 juta rupiah.
Akhirnya kami membawa pulang sebuah organ sederhana, yang bisa kami beli dengan uang enam juta itu. Organ itu rencananya akan ditaruh di kontrakan Anton, jadi dari toko kami menuju ke kontrakan Anton, dengan ikut menaiki mobil pick-up yang mengantar. Sepanjang perjalanan kami tertawa-tawa, memikirkan hasil jerih payah kami. Memikirkan bahwa kami akan bisa latihan organ sendiri di kontrakan. Memikirkan, dengan skill yang kiranya sudah cukup bagus, selain menjadi organis gereja kami bisa juga bermain organ maupun piano di hotel-hotel berbintang, menerima penghasilan lumayan dalam sekali penampilan.
Sehari menjelang konser kelulusan aku latihan di kontrakan Anton. Tapi kebanyakan aku yang berlatih, Anton lebih sering hanya memandangiku bermain tuts-tuts organ, melantunkan nada-nada yang kadang sedih menyayat hati, kadang gembira hingga membuat kami semangat dan tertawa-tawa.
”Anton, besok konser kelulusan, kamu akan tampil di depan penonton, kenapa gak latihan lagi ?”
”Ah nanti aja kan masih bisa, organnya kan di tempatku, jadi bisa sewaktu-waktu kupakai. Yang penting, sekarang kamu latihan ya ?”
Saat aku akan pulang, dia menahanku.
”Sista, aku ingin bicara denganmu sebentar.”
”Ada apa Anton ? Ini udah malam, aku mau pulang. Belum juga kamu latihan lagi.”
”Sista, aku mencintaimu. Aku sungguh sangat mencintaimu.”
”Anton, apaan sih. Iya, aku tau, Ton.”
“Sista, aku serius. Aku udah tau kalau akan benar-benar mencintaimu sejak pertama melihatmu di tempat kursus itu.”
Aku berhenti, kupandangi wajahnya. Kami bertatapan.
”Iya, Anton. Aku juga cinta sama kamu.”
Sebelum pulang, dia memelukku erat-erat.
”Hati-hati di jalan ya, biar kuantar.”
Dia mengantarku sampai kosan. Paginya, aku cepat-cepat bangun, mandi, berdandan, mengenakan seragam yang harus dipakai untuk konser kelulusan.
Baru saja mau berangkat terdengar pintu diketuk, kubukakan, ternyata temannya Anton.
”Eh, Dody. Ada apa Dod ?”
”Sist, Anton sekarang di rumah sakit.”
”Apa ??
Di rumah sakit ?” tanyaku tak percaya.
”Ada apa ? Dia kenapa ? Dia gak sakit kan ?” tanyaku bertubi-tubi.
”Dia kanker otak, sekarang di UGD.”
”Kanker apa ?” aku pun menangis.
Aku langsung menuju ke rumah sakit, diantar oleh temannya. Sampai rumah sakit aku disambut isak tangis ayah ibunya. Kudapati Anton terbaring lemah tak bergerak, dipenuhi selang infus dan kabel yang memantau detak jantung yang melemah.
”Kamu Sista ya ?!” seorang perempuan cantik, guratan-guratan keriput di wajah hanya sedikit mengurangi kecantikannya, ibu Anton, mengajakku bicara.
”Anton sedang koma, Sist. Dia titip pesen buat kamu. Katanya kamu harus menyelesaikan konser kelulusanmu. Dia ingin kamu lulus dan jadi organis, Sist.”
”Gak bisa, saya gak bisa ninggalin Anton. Saya harus tetap disini !” kataku dengan perasaan tak menentu, bercampur antara tangisan dan ketidakmengertian akan semuanya. Kenapa Anton gak pernah cerita ? Kenapa dia menyembunyikan ini semua ?
”Nggak, Sist. Kamu harus ikuti. Itu permintaan terakhirnya, Sist.
Mungkin kondisinya bisa membaik kalau harapannya itu tercapai.” tak kalah menangisnya ibu Anton memaksaku kembali ke PML mengikuti konser kelulusan.
Akhirnya kuikuti konser itu. Kumainkan lagu demi lagu dengan sepenuh hati, walau hati yang hancur. Kupersembahkan setiap alunan nada untuk kekasihku.
Selesai penampilan, aku langsung kembali ke rumah sakit, tak mempedulikan hingar bingar pengumuman kelulusan dan penghargaan yang harusnya kuterima sebagai lulusan terbaik.
Aku melangkah di koridor rumah sakit, semua orang begitu sedih dan terluka.
Ibu Anton datang memelukku ”Anton sudah meninggal, Sist. Anton sudah meninggal…”
…
Tak bisa kulukiskan seperti apa hancurnya jiwaku.
”Dia titip ini buat kamu.” diberikannya sepucuk surat padaku.
Sista, maafkan aku. Aku telah melibatkanmu dalam kesedihan ini. Memang aku telah berniat untuk meninggalkanmu, sebelum kau terlanjur terlibat dalam kehidupanku, karena aku tau aku hanya bisa memulai tanpa bisa mengakhiri. Aku sebenarnya sudah akan meninggalkan Jogja dan kembali ke rumah, menunggu saat-saat kematianku. Tapi saat kau datang waktu itu ke kontrakan mengajakku kembali ikut kursus musik, tak dapat lagi kutahan perasaanku. Aku ingin bisa mendampingimu, melihatmu hari demi hari meraih apa yang kau cita-citakan.
Trimakasih, Sista. Kamu telah membuat hidupku menjadi berarti. Aku sangat beruntung pernah menjadi bagian hidupmu, memilikimu.
Maaf karena tak pernah kubilang padamu sebelumnya.
Aku mencintaimu.



Makacsiehh ya udah baca…..
*bingung nentuin judulnya nih..
sumpah…baru kali ini saia baca blognya orang sampe terharu…..
persetanlah…walaupun erick bilang saia termasuk golongan “band cengeng” …..yang jelas dalem banget cerita ini…..
*dyah minta tissue dong*
hiks pengen nangis…
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
jangan tinggalkan dirimu………
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
hmmmm… ada kanebo eh tissu
wah ada bakat jadi novelis nih sis
btw gw jadi inget ma suster maria. dolo waktu SD gw sering di mintain tolong ma dia buat ngisi instrumen ( gitar ) ingiringi paduan suara di gereja, walo gw hindu tapi gw seneng banget ngebantu, banyak temen lagi.
@ironepunxs
makasih ya mas ironepunxs
*kasih tisu buat mas ironepunxs*
@jadul
*tepuk2 pundak om jadul, kasih tisu buat om jadul* ^^
makasih ya om jadul…..
@regsa
*saia ngakak2 terus baca koment pak regsa ini.. hahahaha
hehehehe…
kanebonya itu loh
makasih ya pak regsa
@erickningrat
wah keren tuh ! SD udah bisa gitar ?! saia waktu SD pegang gitarnya aja gak bisa, bkin pegel2 gitu deh… hehehe.. *bernostalgia*
makasih ya mas erick
wah sumpe deh terharu banget! kenapa dua insan dipertemukan dan kemudian dipisahkan! mungkin sesuai dengan kata orang jadul “ada pertemuan ada perpisahan” tinggal apa yang kita warnai dalam pertemuan yang singkat itu, sebuah kenangan manis, atau tulisan gelap tinta hitam!
emang mbak Dyah paling ok kalo nulis masalah ginian. keren mbak
wah mengharukan banget..
keren..
judulnya pas tuh..
@mas ciput
yupz, setuju. pepatah bilang…
“a short life has been given to us by nature but the memory of a well spent one is eternal.” (Cicero) ^^ , right ??
makasih ya..
@Panda
*bisanya nulis doank, prakteknya susah
jadi malu saia
@paunk
makasih mas
salam kenal…
~0~
@all
makasih ya udah baca….
wah mba aku baru masuk ke blog mba langsung di kasih cerita ini.. salut deh mba.. keren.. apa mba karang novel juga??
aduh,, sama punya kesamaan menulis… ahahaha…
cuman saya enggan *halah bahasanya* untuk memposting karna memang tulisannya gak pernah jadi2 kelewat sibuk ama urusan2 laen kwkwkw… lam kenal dyah segara saya masukkan ada dalam daftar pren sayah, *haduh* tengkayu ^^
saat kesedihan mngisi hati
saat masalah melanda
saat air mata menetes di pipi
saat2 sprti itulah ku ingin slalu di sisimu
karena….
AKU JUAL TISSUE.. BELI 2 GRATIS 1
@Andri
saia gak ngarang novel mas ^^
Btw salam kenal.. thanks dah mampir ya…
@katlea
Lam kenal… Wah makasih bro udah dimasukin linknya, saia link juga ya.. ^^
yeah, selamat menjalani kesibukan, semangat…! ^^
@zeze
hehehehe.. beli tisunya mas, satu
salam kenal ya…
sita saiid: ” gpp ko. aku juga seneng bisa nemenin dirimu. bisa mbantuin aku ngliwet atau masak telor plus mie rebus kalo pas kehabisan uang kiriman dari ortu…”
(ngabur…., yang punya blog marah. soalnya. hehehe)
@Pak Gus ^^
hayah
hehehe, Pak Gus ni bisa aja, kan disuruh ngepel kontrakan plus nyuci baju juga
cie2… jadi Sista nih? baru tau gw… he..he.. wah..wah.. bisa maen romantisan juga ni orang… he.he..
@ciptoadhisetiawan
*lhoh??*
ya ampun….. lama tak jumpa, kmana aja toh mas
hehe, iya nih, jadinya Sista skarang
hehehehe.. ^^
kenapa ngga ngarang novel mba.. kali aja sukses disana juga.. bisa jadi kan ntar novel mba bisa di bikin film.. ^^
@Andri

ya ampun….. saia gak bisa ngarang novel brur
harusnya ni
ngarangbkin laporan praktikum nih brur..hehehe.
fiuh!
mantaabbss!!!
haa..
laporan.. wakakakaka.. met pusing” aj dah ma laporannya hihihihihi,,
hidup ini indah…
@aL
mantabss!
@Andri
kulh telah mengganggu waktu bermain
hehehe
beginilah nasib
@grubik
amin…. semoga..
wah tulisan ini sukses bikin saya terharu
untung aja gak sampe’ mewek
kalo sampe’ kejadian wah gawat deh P
salam kenal yah
tetep-SEMANGAT-nulis
@septarius
hehehe, makasih mas
salam kenal…..
sempet merinding membaca tulisan ini
jadi inget pengalaman ndiri waktu dipaksa dipisahin sama ‘yayangku’ dulu oelh or-tunya he he…
Semoga Sista bener – bener udah jadi pianist yang ok, saya dulu belajar ngedrum dan bersentuhan dengan musik juga di gereja kok, dan sekarang kadang – kadang masih juga ngamen kalau ada panggila he he
@om bali dream home ^^
ciyeeh….pengalaman om bali nih…..
sista 90% tokoh fiktif belaka
wah keren tuh…! pinter main musik / suka konser juga ya om
berarti 5 persennya dari fakta. berarti inspirasinya veritanya fakta neh….sep…
@gus
iya, sebenarnya terinspirasi oleh Anton teman saia (nama sebenarnya) yg suatu hari tiba2 beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke depan, membisikkan sesuatu pada bapak yg mengajar, lalu keluar ruangan dan tak pernah kembali lagi